Followers

Senin, 30 Mei 2011

KONTROVERSI HERMENEUTIKA SEBAGAI METODE TAFSIR

Oleh : Ilham Mustafa

Abstract

Hermeneutics is the study of interpretation theory, and can be either the art of interpretation, or the theory and practice of interpretation. Traditional hermeneutics - which includes Biblical hermeneutics - refers to the study of the interpretation of written texts, especially texts in the areas of literature, religion and law. Contemporary, or modern, hermeneutics encompasses not only issues involving the written text, but everything in the interpretative process. This includes verbal and nonverbal forms of communication as well as prior aspects that affect communication, such as presuppositions, preunderstandings, the meaning and philosophy of language, and semiotics. Now in islam, thinker of modernist and orientalism like Hasan Hanafi, Fazlur Rahman, Muhammad Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd and other make hermeneutics in interpretation. Then, it can be contoverted among moslem scholar.


Key word : Kontoversi, Hermeneutika, Tafsir

PENDAHULUAN
Dalam menafsirkan Al-Qur’an, seorang mufassir dituntut menguasai beberapa cabang ilmu sesuai kaidah tafsir yang disepakati oleh ahli ilmu Islam. Seseorang tidak punya kewenangan untuk menafsirkan kalamullah jika tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menjadi seorang mufassir. Metodologi tafsir yang digunakan pun harus sesuai tuntunan Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in, serta para ulama yang mumpuni.
Terdapat berbagai macam sumber dan metode yang dijadikan sandaran oleh para ulama dan ahli tafsir untuk memahami ayat Al-Qur’an. Mereka berusaha untuk mengetahui pemahaman secara detail dan bisa diungkapkan dengan kata-kata yang sesuai. Hal ini diupayakan agar Al-Qur’an bisa dicapai oleh setiap insan yang ingin memahami dan mengamalkan isi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an yang mengajak kepada kebaikan dunia dan akhirat.
Akhir-akhir ini, kita dikejutkan dengan berbagai pemikiran LIberalis dan karangan-karangan orientalis maupun pemikiran orang-orang Islam yang telah terpengaruh oleh pemikiran dunia Barat. Seperti Pemikir Modernis Hasan Hanafi, Fazlur Rahman, Muhammad Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd dan lain-lain. Maka dalam ilmu tafsir, dimunculkanlah hermeneutika. Ilmu yang mula-mula diterapkan dalam Bible ini, terkesan dipaksakan untuk diterapkan dalam menafsirkan berbagai kitab suci, terutama Al-Qur’an.
Dalam sebuah hadits dinyatakan :
حَدِيْثُ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِي رضي الله عنه. عَنِ النَبِيِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: "لَتَتَبَعَن سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَ رَاعًا بِرَاعٍ. حَتىَ لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَب تَبَعْتُمُوْهُمْ". قُلْنَا: "يَارَسُوْلَ الله، الْيَهُوْدِ وَالنَصَارَى؟". قَالَ: "فَمَنْ؟" (رواه البخارى و مسلم)
Abi Said Al-Khudri r.a. berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga meskipun mereka berjalan masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalian akan mengikuktinya.” Lalu kami bertanya, “Wahai Rasulullah, Apakah mereka itu adalah Yahudi dan Nasrani? Beliau bersabda, “Siapa lagi?!” (HR: Bukhari dan Muslim)
Sebagai orang mungkin tidak peduli dengan ini dan beranggapan Ilmu bebas nilai dalam artian ia tidak terikat oleh sesuatu apapun di luar objeknya sendiri serta ilmu pengetahuan netral, seolah telah menjadi diktum resmi yang dijadikan aras yang kokoh bagi pengembangan keilmuan modern.
Namun begitu, sejarahpun mencatat bahwa klaim ilmu bebas nilai kemudian ditentang oleh banyak kalangan dalam komunitas keilmuan itu sendiri. Bahkan hingga saat ini pertentangan itu semakin sengit terutama datang dari kalangan panganut paham etika, estetika, agama, sosial, budaya dan lainnya. Fenomena yang ada, sejak zaman Yunani kuno pun, di mana etika dan estetika mendapat tempat kehormatannya yang tinggi, klaim bahwa ilmu pengetahuan terikat oleh nilaipun sudah menggejala. Lihat misal ideal Aristoteles tentang ilmu pengetahuan yang berasumsi bahwa ilmu itu tumbuh dengan nilai-nilai. Keduanya menyatu dan tak terpisahkan satu sama lain. Realitas objek dan subjek saling berkaitan satu sama lain dan sulit untuk dipisahkan.
Maka disini, penulis mencoba untuk memaparkan sedikit banyaknya mengenai kontoversi mengenai Hermeneutika. Karena hermeneutika sendiri merupakan penafsiran yang diperuntukan untuk menafsirkan bible.

Sekilas tentang Tafsir Al-Qur’an dan Hermeneutik
Tafsir menurut bahasa ialah penjelasan atau keterangan. Kata tafsr di sebutkan dalam Al-qur’an surat al-Furqan (25:33)Yang Artinya ;
Dan tidaklah datang kepadamu membawa sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan paling baik tafsirannya
Kata “tafsirkan” bermakna terangkan atau jelaskan. Dan pengertian ucapannya yang telah ditafsirkan berarti ucapan yang tegas lagi jelas. Menurut istilah, pengertian tafsir ialah ilmu yang mempelajari kandungan kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi SAW. Berikut penjelasan maknanya serta pengambilan hokum serta hikmah-hikmahnya. Sebagian ahli tafsir mengemukakan bahwa tafsir adalah ilmu yang membahas tentang Al-Qur’anul Karim dari segi pengertiannya terhadaap maksud Allah sesuai dengan kemampuan manusia.
Dan kata hermeneutik berasal dari bahasa yunani, hermeneuein yang berarti “ menafsirkan” kata ini sering di asosiasikan dengan hermes, seorang utusan dewa yunani kuno, yang bertugas menyampaikan pesan bagi manusia. Hermes tersebut di anggap sinonim dengan peran Rasullah saw yang menyampaikan pesan Allah. Karena itu, hermeneutik disinonimkan dengan tafsir, disini sudah jelas banyak sekali perbedaan hermeneutik dengan tafsir. Bahkan banyak sekali ketidak mungkinan jika mengaplikasikan hermeneutik kedalam tafsir Al-qur’an.
Dari sisi epistimologi hermeneutik bersumber pada akal semata-mata.jadi hermeneutk memuat dhan(dugaan), shakk(keraguan), mira(asumsi). Sedangkan tafsir dar sisi epistimologi bersumber dari wahyu Al-qur’an, karena itu tafsir Al-qur’an terikat dengan apa yang telah di sampaikan, dan di jelaskan oleh Rasullah. Dan Allah berfirman dalam surat an-Nahl(16:44), Yang Artinya ;
Telah Kami turunkan kepadamu (Muhammad) kitab tersebut agar kamu jelaskan kepada umat manusia tentang apa yang Allah kepada mereka agar mereka memikirkan.

Kontoversi Hermeneutika Sebagai Metode Tafsir
Dalam rangka menanggapi kemandulan aktivitas berpikir dan madeknya pemikiran Mesir khususnya, salah seorang kritikus pernah mengatakan, “Buku Mafhumun Nash (konsep teks) karangan Nasr Hamid Abu Zayd tidak menimbulkan Kontroversi apa-apa. Padahal buku ini jauh lebih berbahaya dan telah menohok jantung al-Qur’an sendiri.
Menurut Nashr Hamid Abu Zayd dalam bukunya, “Hermeneutika Inklusif”, problema dasar yang diteliti hermeneutika adalah masalah penafsiran teks secara umum, baik berupa teks historis maupun teks keagamaan. Oleh karenanya, yang ingin dipecahkan merupakan persoalan yang sedemikian banyak lagi kompleks yang terjalin di sekitar watak dasar teks dan hubungannya dengan al-turats di satu sisi, serta hubungan teks di sisi lain. Yang terpenting di antara sekian banyak persoalan di atas adalah bahwa hermeneutika mengkonsentrasikan diri pada hubungan mufassir dengan teks. Ia berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah teks yang berupa bahasa (nasshun lughawiyyun). Peradaban Arab Islam tidak mungkin melupakan sentralisasi teks. Menurutnya, prinsip-prinsip, ilmu-ilmu dan juga kebudayaan Arab Islam itu tumbuh dan berdiri di atas teks. Namun demikian, teks tidak akan bisa apa-apa kalau tidak ada campur tangan manusia. Artinya, teks tidak akan mampu mengembangkan peradaban dan keilmuan Arab Islam apabila tidak mendapatkan sentuhan dari pemikiran manusia. Dalam pandangan demikian, dengan kata lain agama sebagai teks tidak akan berfungsi apabila keberadaanya tidak dipikirkan manusia. Karenanya, ia berpendapat bahwa perkembangan Islam itu sangat tergantung kepada relasi dialektis antara manusia dengan dimensi realitasnya pada satu sisi, dan teks pada sisi yang lainnya. Di sini jelas terlihat Nashr Hamid Abu Zayd mengganggap Islam dan Al-Qur’an masih harus terus didialektikkan dan harus mengikuti perubahan zaman, bukan hanya dalam tataran praktis, namun juga dalam tataran konsep, termasuk konsep mengenai metode tafsir.
Terlebih lagi, Nashr Hamid dan para hermeneut lain memandang Al-Qur’an hanya sebatas produk budaya, bukan ‘Kalam Allah’ sehingga tidak lepas dari konteks sosio cultural masyarakat Arab saat Al-Qur’an diturunkan (historis kritis). Metode penafsiran Nasr Hamid yang melepaskan posisi teks Al-Qur’an dari ‘Kalam Allah’ dapat dilihat dari kritikannya terhadap metode tafsir Ahlu Sunnah, dengan menyimpulkan : (1) Tafsir yang benar menurut Ahlussunnah, dulu dan sekarang, adalah tafsir yang didasarkan pada otoritas ulama terdahulu; (2) Kekeliruan yang mendasar pada sikap Ahlussunnah, dulu dan sekarang, adalah usaha yang mengaitkan “makna teks” dan ‘dalalah’-nya dengan masa kenabian, risalah, dan turunnya wahyu. Ini bukan saja kesalahan “pemahaman”, tetapi juga merupakan ekspresi sikap ideologisnya terhadap realitas – suatu sikap yang bersandar pada keterbelakangan, antikemajuan dan anti-progresivitas. Oleh karena itu kaum Ahlussunnah menyusun sumber-sumber utama penafsiran Al-Qur’an pada empat hal : penjelasan Rasulullah, sahabat, tabi’in, dan terakhir yaitu tafsir bahasa.
Jadi, ketika konsep teks Al-Qur’an dibongkar, dan dilepaskan dari posisinya sebagai ‘Kalam Allah’ maka Al-Qur’an akan diperlakukan sebagai ‘teks bahasa’ dan ‘produk budaya’ sehingga bisa dipahami melalui kajian historisitas, tanpa memperhatikan bagaimana Rasul Allah dan para sahabat beliau mengartikan atau mengaplikasikan makna ayat-ayat Al-Qur’an dalam kehidupan mereka. Dengan pembongkaran Al-Qur’an sebgaai ‘Kalam Allah’, maka barulah metode hermeneutika memungkinkan digunakan untuk memahami Al-Qur’an. Metode ini memungkinkan penafsiran Al-Qur’an menjadi bias dan disesuaikan dengan tuntutan nilai-nilai budaya yang sedang dominan (Barat).
Di dalam buku Evolusi Tafsir Gamal al-Banna mengatakan “Kita Mengatakan para penulis seperti ini (hermenutik.red) apakah kalian tidak berpikir dan mengapa harus berkeras hati mempertahankan tesis sedemikian? Mengapa mereka tidak membedakan sajak dan penyair, teks drama atau sejarah yang ditulis oleh para sejarawan dengan kitab yang betul-betul telah memberi pengaruh yang begitu besar terhadap peradaban dunia sepanjang kurun waktu 1.400 tahun; telah meruntuhkan dinasti aristorastik Romawi dan parsi, dan emrevitalisasi umat manusia, dan turut serta dalam membangun peradaban yang mengandung unsure keagungan legislasi hukum, politik, dan ekonomi. Kitab (Al-Quran.red) itulah yang menjadi inti nurani jutaan Manusia dari beragam etnis dan berbeda masa. Mengapa pula mereka mengamsumsikan lafaz-lafaznya yang suci dan mengandung nilai ibadah ketika dibaca itu, sebagai mana lafaz yang dibuat oleh penulis seperti Zayd atau Abid?
Sementara itu Ahmad Sadzali dalam artikel yang berjudul Hermeneutika Tak Bisa Menggantikan Tafsir Al-Quran menjelaskan bahwa Produk yang dihasilkan dari hermeneutika adalah suatu paham relativisme yang menganggap tidak adanya tafsir yang tetap. Semua tafsir dianggap produk akal manusia yang felatif, kontekstual, temporal, dan personal. Dengan hermeneutika, hukum Islam memang menjadi tidak ada ada yang pasti. Contohnya, hukum tentang perkawinan antaragama. Dalam Islam, jelas muslimah diharamkan menikah dengan laki-laki non-Muslim. Tapi karena hukum ini dipandang bertentangan dengan hak asasi manusia dan tidak sesuai dengan zaman, maka harus diubah. Agama tidak boleh menjadi faktor penghalang bagi perkawinan. Sehingga pada akhirnya hukum perkawinan antaragama menjadi sesuatu yang halal.
Para hermeneutis (pengaplikasi hermeneutika) juga tidak segan-segan memberikan tuduhan yang negatif kepada para ulama Islam. Seperti yang terjadi pada kasus kritikan terhadap Imam Syafi’i. Dalam buku Fiqih Lintas Agama yang diterbitkan oleh Paramadina, Imam Syafi’i dituduh sebagai orang yang membelenggu pemikiran fiqih sehingga tidak berkembang.

Penutup
Dengan melihat penjelasan-penjelasan diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa al-Qur’an pada akhir-akhir ini sering kali ditafsirkan dari berbagai kalangan, dan biasanya istilah ini disebut hermeneutik al-Qur’an, yang sering digemakan oleh orientalis dan para pemikir muslim modernis, seperti Hasan Hanafi, Fazlur Rahman, Muhammad Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd dan lain-lain menjadi pro kontra di kalangan ulama muslim.
Meskipun dalam interpretasi dan kebebasan berfikir Nasr Hamid telah mengembangkan pemikiran barunya dalam interpretasi teks yang dikenal dengan hermeneutik, dan ini berkembang sejak abad ke-17. Suatu ketika dia pernah berkata, “Saya tetap konsisten atau hasil penelitian-penelitian yang saya lakukan hingga saya menemukan argumentasi yang dapat membuktikan bahwa hasil penelitian tersebut keliru”. Begitu kuatnya dia berpendirian.
Terlepas dari kontroversi Hermeneutika, terdapat juga nilai positifnya yang mana kita bisa mengambil dan mengkaji ulang pemahaman teks al-Qur’an yang sesuai dengan penafsiran yang tidak bertolak belakang sumber-sumber agama islam. Wallahu a’lam.

DAFTAR RUJUKAN
Gamal al-Banna Penerbit: Evolusi Tafsir: Dari Jaman Klasik Hingga Jaman Modern (Jakarta : Qisthi Press cetakan: ke-2, September 2005)
Nashr Hamid Abu Zayd, Hermeneutika Inklusif-Mengatasi Peroblematika Bacaan dan Cara-Cara Pentakwilan atas Diskursus Keagamaan, (Jakarta : ICIP, 2004), 3.
Nashr Hamid Abu Zayd, Menalar Firman Tuhan, Wacana Majas dalam Al-Qur’an menurut Mu’tazilah (Bandung: Mizan, April 2003)
Prof. Dr. Mani' Abd Halim Mahmud Metodologi Tafsir: Kajian Komprehensif Metode Ahli Tafsir (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada 2006)
Prof. Dr. Muhammad Ali Ash-Shaabuuniy Studi Ilmu Al-Qur’an, terjemahan asli dari buku At-Tibyan Fi Ulumil Qur’an (Bandung:Pustaka Setia,1998)
http://www.inpasonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=373:problematika-hermeneutika-dalam-tafsir-al-quran-1&catid=43:aliran-menyimpang&Itemid=103 lihat
http://diinillah-el-ndien.blogspot.com/2009/02/telaah-pemikiran-nasr-hamid-abu-zaid.html
http://www.khairulumam.co.cc/?p=25#more-25 lihat
http://www.hidayatullah.com/opini/pemikiran/10288-hermeneutika-tak-bisa-menggantikan-tafsir-al-quran
http://en.wikipedia.org/wiki/Hermeneutics


Dimuat dalam Jurnal Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Edisi 1

0 komentar:

Komunitas

Entri Populer

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys